Review I Love You; I Just Can't Tell You by Alvi Syahrin


.




Judul: Ilove You; I Just Can’t Tell You
Penulis: Alvi Syahrin
Editor: Widyawati Oktavia & Yulliya
Desainer dan illustrator sampul: Levina Lesmana
Ilustrator isi: Ida Bagus Gede Wiraga (@ibgwiraga)
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 979-780-805-X
Jumlah halaman: xiv + 326 hlm


Ini kisah cinta pertama.
Cinta yang polos dan meragu, menjebakmu dalam momen katakan-tidak-katakan-tidak, membuatmu percaya,
"Apakah rasa ini akan sepadan dengan hasilnya?"
[Daisy]
Aku telah jatuh cinta. Untuk kali pertama.
Cinta yang membuat harapku terbang ke angkasa.
Namun....
Akankah dia menyadari hadirku kala aku sendiri ingin bersembunyi,
dari tubuh remaja tujuh belas tahun yang tak tumbuh sebagaimana remaja lainnya?
[Alan]
Tidak semua laki-laki sama, yakinku.
Tetapi.... Mengapa....
Semakin aku mencoba, semakin jalan terasa berselisih?
[Ve]
Aku sudah tahu betapa cinta hanya menyisakan luka.
Luka dan rahasia.
Rahasia yang bahkan kepada sang penulis kusampaikan,
"Tolong jangan beri tahu Alan dan Daisy. Juga pembacamu."
***
Ini kisah cinta pertama...
Yang membuat hati kecilmu selalu bertanya,
"Apakah cerita ini bisa membawa bahagia?"
***

Daisy, gadis berusia 16 tahun yang tak tumbuh sebagaimana remaja lainnya. Ketika teman-temannya sudah mendapatkan menstruasi dan mengalami perubahan secara fisik, Daisy belum. Ia belum mendapat menstruasi dan tubuhnya tidak mengalami perubahan. Ia berbeda hingga ia bertanya-tanya “adakah yang bisa menerimaku dalam keadaan seperti ini?”

Sampai suatu hari, saat Daisy dan teman-temannya duduk di salah satu kios makanan jalanan di sekitar lapangan di samping sekolahnya, sebuah insiden terjadi. Daisy terkena bola yang tertendang sangat kencang keluar dari lapang menuju arahnya dan menghantam dadanya hingga ia jatuh ke belakang. Teman-teman Daisy pun mengerubunginya bersama dengan beberapa murid lelaki yang ada di sana. Tetapi, bukannya membantu, mereka malah tertegun mengamati Daisy. Lebih tepatnya mengamati dadanya. Daisy pun tersadar, seragamnya yang longgar sekarang telah mencetak postur tubuhnya, dada rata. Benar-benar rata. Teman-temannya pun berbisikkeheranan pada Daisy “apakah Daisy belum’dapat’?” yang sayangnya tidak dapat dikatakan sebagai berbisik karena ucapan temannya itu terdengar oleh murid lelaki tadi dan beberapa kakak mahasiswa. Menahan malu, Daisy pun bebalik pulang meninggalkan teman-temannya. Saat berjalan menuju sepedanya hujan turun, Daisy membiarkan itu hingga sesorang berdiri di sampingnya, melindunginya dengan payung berwarna biru. Tatapan mereka bertemu dan Daisy merasa ada yang berbeda dalam dirinya. Ada yang berubah di dalam hatinya.

Setahun berlalu, akhirnya Daisy bertemu kemabali dengan lelaki tersebut. Namanya Alan, seorang mahasiswa Teknik Informatika. Ternyata Alan sering makan di rumah makan Ibunya. Suatu hari setelah Alan selesai makan di rumah makan ibunya, Daisy diam-diam membututi Alan ke kampus yang tidak jauh dari rumahnya. Daisy membuntuti Alan hingga masuk ke dalam kelas dan tidak di sangka Alan menawarkan dirinya masuk dalam kelompok diskusi Alan. Saat ditanya nomor pokok mahasiswa barulah Daisy tersadar, dirinya membuat kesalahan fatal. Tetapi dari kejadian ini, Daisy mendapat nomor hp Alan sehingga ia bisa berkomunikasi dengan Alan walaupun sebenarnya alan memberikan nomor hpnya karena Daisy mengatakan bahwa ia bisa membantu tugas kuliah Alan. Sebenarnya Alan meragukan dan sempat ingin menolak, tapi Ve, teman sekelompok Alan memintanya memberikan kesempatan pada Daisy dan akhirnya Alan setuju.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Apakah Alan berbeda dari lelaki yang lain dan mau menerima Daisy apa adanya?

Kisah tentang cinta pertama memang sudah tidak asing lagi dan mungkin menjadi hal yang klise. Tetapi, di tangan Alvi Syahrin tema cinta pertama ini begitu berbeda. Dimulai dari tokoh utama yang berbeda dan konflik yang dihadirkan menurut saya tidak mainstream dan begitu bermakna.
Diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama dari masing-masing tokoh sehingga kita dapat mengetahui apa yang mereka rasakan. Saat membaca bagian Daisy, saya merasa terlempar kembali ke masa smp dimana saya pernah melakukan yang Daisy lakukan membuat saya sering menutup buku lalu menenggelamkan muka ke bantal untuk menahan malu hahaha. Tidak hanya itu, rasa khawatir Daisy akan kondisinya dan bagaimana jika tidak ada yang mau menerimanya sangat terasa. Membuat saya sesak, karena setiap orang berhak untuk dicintai dan mencintai bukan?

I’m in love, but it’s like the reality whispers to me,
‘You can’t be with him. You can’t be with anyone’” – Daisy Yazawa
“Aku hanya ingin hidup normal seperti remaja lainnya. Jatuh cinta dan dicintai.” hal. 165

Berganti ke bagian Alan, saya dapat merasakan sebuah keraguan. Di saat sudah merasa yakin tetapi kenyataan datang menghantam ragu itupun muncul. Saya agak sedikit greget dengan Alan ini, yah tapi ini wajar. Dan Ve, perasaan ragu, takut untuk memulai kembali. Ah saya tidak bisa menceritakan banyak untuk bagian Alan dan Ve karena kalian harus membacanya sendiri hihi. Terlalu rumit untuk dijabarkan.

“For you, I’m not gonna stop.” – Alan Atmaja
Saat menatap langit, aku selalu percaya bahwa akan ada seorang yang tepat untuk bersama menyaksikan.” hal. 47

Love is just illusion, and I’m sick of it. I’m not going to believe anyone who says the love words anymore. No more.” – Violetta
“Dia menatapku seolah melihat bintang pada siang hari; terpana, tetapi kehilangan harapan sedetik kemudian. Tahu itu tak mungkin terjadi.” hal. 149

Novel ini tidak hanya menceritakan tentang cinta pertama. Kak Alvi menampilakan pula cinta dari keluarga. Hal ini terlihat dari konflik yang dihadirkan. Tidak hanya ada konflik tentang cinta pertama, tapi dihadirkan pula konflik antara Daisy dan Ibunya. Dan ini membuat saya menangis wkwkwk. Konfliknya terasa sangat real karena sebenarnya hal tersebut pasti pernah terjadi pada kita. Yang jelas saya sukaaaa sekali novel ini. Menurut saya Kak Alvi sukses membawakan pesan dari novel ini tanpa kesan menggurui. Saya suka karena ini bukan cerita cinta pertama yang menye-menye, tetapi lebih dari itu, cerita ini mengajarkan kita untuk menerima apa yang telah Tuhan berikan. Bahwa cinta itu tidak hanya dari lawan jenis, tapi ada rasa cinta yang lebih besar dari itu. Yaitu cinta seorang Ibu. Ketika seluruh dunia menolakmu, mengatakan hal buuruk kepadamu, hanya satu tempat kau diterima dan dibela. Yaitu dekapan ibu dan ayah :’)

Secara pribadi, novel ini sangat membekas untuk saya. Pemikiran saya akan cinta ternyata sepaham dengan apa yang dituliskan Kak Alvi di novel ini hehehe.
Overall, saya tidak menemukan typo dsb, saya terlarut dalam kisah Daisy, Alan dan Ve ini. Ilustrasinya bagus, saya suka hihihi. Hanya saja karena memiliki sudut pandang dari masing-masing tokoh saya agak kesulitan dalam membangun feel di tengah cerita, walaupun ceritanya masih bersangkutan. Saat saya sudah merasuk pada Daisy lalu lanjut ke halaman berikutnya ternyata sudah bagian Alan sehingga feel saya turun kembali demi mendapat feel dari Alan. Begitupun pergantian ke Ve lalu ke Daisy. Tetapi, menulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama bagi Kak Alvi merupakan hal yang membuat ia keluar dari zona nyamannya, jadi saya memaklumi. Tidak mudah memang keluar dari zona nyaman. Walaupun begitu, seperti yang saya sudah katakana bahwa pesan yang ada dalam novel ini tersampaikan. Kak Alvi harus tahu kalau pada halaman terakhir saya menangis tersedu-sedu, hiks. Ah gawat, lama-lama saya bisa spoiler nih wkwkwk.

Menurut saya novel ini kereeennn bangett!! Walaupun bergenre teenlit, menurut saya cerita Daisy ini patut dibaca semua kalangan. Untuk kalangan remaja, saya harap dengan membaca novel ini remaja sekrang tidak hanya berpikiran mengenai cinta dari lawan jenis atau pacaran melulu. Karena miris sekali melihat remaja sekarang lebih mudah terserang penyakit ‘baper’. Sedikit-sedikit baper, sampai peristiwa penting sekalipun dikaitkan dan dijadikan bahan kebaperan, ckckck saya turut sedih sebagai bagian dari remaja L (secara saya masih 18 tahun, masih remaja kan? Wkwkwk)

Pokoknya novel ini recommended banget! Apalagi untuk kalian yang ingin membaca kisah cinta pertama yang berbeda dari kisah yang lain. Karena…

“Akan ada waktu yang tepat untuk cinta sejati. Semua sudah ada waktunya.” hal. 291

4 stars for this book J



Oiya, saya merasa bersalah sekali pada Gilang. Maafkan saya Gilang karena sudah men-judge kamu. Apakah ada cerita untuk Gilang Kak Alvi? Hehehehe. Sampaikan maafku untuk Gilang ya :’) Sebenarnya saya sudah lama ingin mempost review ini, tetapi berhubung saat itu tugas menumpuk dan mau UN jadi review ini hanya tersimpan di file komputer. Hehehe, enjoy!

Your Reply