Hey lagi~ sebelum saya
bakal jarang nge-post saya mau nge-post cerpen pertama saya yang gajelas ini
--“ sebenernya pingin dipanjangin tapi gacukup untuk 4 lembar kertas jadi
dipersingkat jadi segini ._. yang jago di bidang sastra boleh kritikannya~ oke ini
cerpen saya……
Momiji-ku
Musim
Dingin akan segera berganti dengan Musim Semi. Rasanya cepat sekali musim semi
datang yang artinya aku akan segera lulus dari SMP. Sambil melihat ke arah luar jendela kelas aku
merenung, hidupku biasa-biasa saja. Bermain dengan teman, dimarahi guru, bolos
dari kelas tidak ada yang menarik. Tetapi itu berubah ketika aku pindah ke
sini. Ada seseorang yang menarik perhatianku. Aku pun melihat sosok itu di
depan mejaku, sedang duduk sambil menuliskan tugas yang guru berikan. Hmmm dia.
Aku juga bingung kenapa aku jadi sering memperhatikan dia? Mika Hayasaka. Dia Ketua Kelas yang sangat
cerewet dan suka mengatur, benar-benar menyebalkan.
Tapi
mengingat kejadian bersamanya membuatku tersenyum. Aku jadi ingat saat pertama
aku pindah ke sekolah ini. Aku bosan dengan sesuatu yang berbau formal sehingga
aku mencat rambutku menjadi warna coklat kepirangan. Akibatnya, sebagai siswa
baru aku langsung masuk ruang guru.
“Bukankah kamu baru pindah kesini
mmmm Rito Souma?” ucap seorang guru.
“Hmmm ya” balasku dengan malas.
“Kamu ini! Kamu tau peraturan di
sekolah ini siswa dan siswi dilarang mencat rambut. Kamu rambut dicat tambah
ditindik lagi, banyak peraturan yang kamu langgar dan itu akan......bla.....bla...bla......bla”
Guru itu
masih mengomel, aku bosan mendengarnya. Aku hanya memalingkan muka ke arah
jendela. Tiba-tiba orang itu masuk dan membuat guru ini berhenti berbicara dan
membuat pandanganku terarah kepadanya.
“Permisi. Saya mau menyerahkan
tugas yang Bapak berikan minggu lalu.”
“Ya letakan saja disini, oh! Hayasaka-san,
bukankah dia teman sekelasmu? Beritau dia supaya menghilangkan tindikannya dan
mencat kembali rambutnya menjadi warna hitam. Akan lebih enak jika ditegur
teman sendiri.”
Huh! Sial sekali aku hari ini,
diomeli guru ditambah diomeli lagi oleh dia. Aku pun memalingkan muka. Tetapi
di malah.....
“Hmmm malah baguskan, dengan
rambut dan tindikannya dia jadi lebih mudah untuk dicari.”
Aku sendiri tercengang dengan
jawabannya. Jangankan aku, guru yang mengomeliku pun terbengong-bengong
mendengarnya.
“Ekhm Hayasaka-san, itu bukannya
kamu mendukung dia?”
“Eh? Lho?” dengan raut muka
bingung dia menjawab begitu. Dari kejadian itu aku berpikir, dia cukup menarik,
berbeda dengan orang lain yang akan merespon negatif saat melihat penampilanku.
Dia berbeda.
Bukan
hanya itu, saat aku sudah beradaptasi dengan kelasku seperti biasa kelakuan
anak laki-laki, aku sering membolos di jam pelajaran dan bolos piket kelas. Toh
nilaiku tidak memburuk. Yah aku tergolong jenius tapi rasanya malas sekali aku
berada di ruang kelas. Aku lebih suka disini, di atap sekolah. Di sini aku bisa
memandang langit biru, angin
yang sedikit kencang tapi menyejukan, rasanya nyaman untuk tidur
disini. Saat aku mencoba tuk terlelap......
“Hey Rito! Kamu mencoba membolos
lagi ya! Ayo cepat kembali ke kelas!” sambil menarik-narik rompiku dia berkata
seperti itu.
“Hey lepaskan! Aku tidak mau!”
“Ayo cepat nanti aku dimarahi Pak
Guru karena terlalu lama membujukmu!”
“Kalau begitu kembali lagi saja
ke kelas, aku akan tetap disini!”
“Kamu ini ngotot sekali! Pokoknya
ayo turun!” ujarnya sambil menarik-narik lengan bajuku.
“Hentikan! Nanti seragamku robek!
Hey!” tetapi dia tidak peduli apa yang kukatakan. Dia tetap menarik lengan
bajuku sehingga aku pun terpaksa diseretnya ke kelas. Sepanjang jalan menuju ke kelas aku tak
henti-hentinya menyuruhnya untuk melepaskan genggamannya.
“Hey Hayasaka! Lepaskan!” tetapi dia tetap tidak
peduli. Aku pun mencoba sekali lagi dengan setengah berteriak.
“Mika lepaskan!” dan berhasil! Beberapa koridor
mendekati pintu kelas dia berhenti dan melepaskan genggamannya di lengan
bajuku. Di berbalik ke arahku dengan wajah memerah.
“Kenapa kau memanggilku dengan nama kecilku?!”
terlihat dia sedikit marah disana.
“Memangnya kenapa? Kau juga memanggilku dengan
nama kecilku.” Ucapku
dengan cuek.
“Kau ini ya! Eh, lho...........” Dari raut muka malu sekarang raut mukanya seperti
menahan tawa. Benar-benar perempuan aneh.
“Ada apa? Kau senang dipanggil Mika oleh ku?” ujarku
dengan setengah heran dan setengah menjahilinya.
“Ha-ha, enak saja, itu hmmmpp dirambutmu…..” dia tidak jadi tertawa tapi
tersenyum sambil mengarahkan tangannya ke rambutku. Saat aku melihat senyuman
itu rasanya ada sesuatu yang terjadi padaku. Aku merasa senyumannya manis
sekali. Tiba-tiba aku menjadi kikuk di depannya.
“Itu di rambutmu.” Katanya sambil menjulurkan
tangannya ke rambutku tetap dengan senyumannya. Mataku tak lepas dari
senyumannya. Sungguh manis sekali. Aku dapat merasakan jantungku berdegup lebih
cepat, tetapi aku cepat-cepat menepis perasaan itu. “Ada momiji di rambutmu, wah warnanya juga sama dengan rambutmu. Lihat!”
dia menujukan daun kering berwanarna coklat muda yang warnanya memang sama
dengan rambutku sambil tersenyum. Tanpa sadar aku pun tersenyum lebar sambil
mengambil momiji yang dia tunjukan.
“Ini akan menjadi suatu yang berharga. Akan kusimpan
ini.” ucapku tetap sambil tersenyum. Ku lihat dia sedikit kaget dengan reaksi
ku.
“Baru pertama kali aku melihatmu tersenyum. Seharusnya
kau lebih banyak tersenyum, Rito.” ucapnya tersenyum sambil menundukan kepala.
Aku kaget dia berkata begitu. Jantungku jadi tambah berdegup kencang. Akhirnya
kami pun terdiam cukup lama.
“Sudah! Ayo cepat kembali ke kelas!” ucapnya kembali.
Aku pun berjalan di belakangnya.
Di lorong kelas, apakah aku mulai menyukainya?
Sejak peristiwa itu, aku sering mengamatinya.
Menurutku dia tidak terlalu cantik, biasa-biasa saja. Tetapi entah kenapa saat
dia dekat dengan laki-laki lain jantungku seolah berhenti berdetak. Rasanya
sakit sekali. Ternyata aku memang menyukainya. Tidak perlu alasan mengapa aku
menyukainya.
Tanggal di kalender terasa sangat cepat. Tidak terasa
musim semi telah datang. Kelulusanpun sudah di depan mata. Kamu yang menjadi
Ketua Kelas terlihat sangat sibuk. Sehingga aku jarang melihatmu duduk sambil
membaca buku di depanku. Rasa sakit itu tiba-tiba muncul kembali…….
Akhirnya, upacara kelulusan tiba. Lagu kelulusan dan
ucapan selamat terngiang seiring dengan kelopak bunga sakura yang bertebaran.
Anak-anak kelasku sedang berkumpul untuk menuliskan pesan di buku kelulusan.
Rasanya sedikit pegal menuliskan pesan berulang kali, tapi aku menikmatinya.
Aku pun tersadar, Mika belum kuberi pesan dan aku bertekad akan menyatakan
sesuatu padanya.
“Mau kutuliskan pesan?” ucapku kepadanya. Kulihat dia
sedikit kaget dan terdiam.
“Hey mau tidak? Nanti menyesal lho tidak dapat pesan
dariku.” setengah menggoda aku berkata seperti itu.
“Tunggu 100 tahun dulu baru aku menyesal, ini cepat.”
dengan muka sedikit kesal akhirnya kami bertukar buku kelulusan. Akupun
memberanikan diri menuliskan pernyataan itu di bukunya. Beberapa lama akhirnya
dia selesai menuliskan pesan di bukuku.
“Rito ini.” dia pun menyerahkan bukuku tetapi aku
belum menyerahkan bukunya. Aku pun membaca isi pesannya. “Dasar cerewet.”
Ucapku sambil tersenyum membaca pesannya. Biasanya dia akan membalasku tapi
kulihat ia hanya menunduk. Aku pun tersenyum sambil menyerahkan bukunya. “Ini
sudah.” Aku pun beranjak pergi sebelum melihat reaksinya.
Aku pergi ke pohon sakura yang berada di belakang
sekolah. Menunggu dia datang. Cukup lama aku menunggunya sampai aku tertidur.
Tanapa sadar, ada seseorang yang mengguncang-guncangkan lenganku.
“Rito! Hey bangun!”
Kulihat siapa yang membangunkanku. Ternyata Mika. Aku
jadi teringat peristiwa pertama kali perasaan itu datang padaku. Aku pun
tersenyum padanya.
“Kenapa tersenyum? Maaf aku lama, Pak Guru memanggilku
tadi.”
“Tidak apa-apa, kau bawa buku kelulusannya kan?”
Dia pun menyerahkan bukunya. “Ini, kenapa tidak
sekalian saja tadi di kelas….”
Aku hanya tersenyum sambil menuliskan perasaan yang
aku tepis selama ini.
“Nih, sudah.” Aku pun mengembalikan bukunya.
Dia terdiam dan kulihat mukanya memerah kemudian
menatapku.
“Ini maksudnya…..”
“Iya, kau pasti tau maksudku……..Mika……” aku tidak tau tiba-tiba
aku merasa kikuk sekali. Rasanya jantungku mau copot sekarang. Kami pun terdiam
cukup lama. Aku takut kemungkinan terburuk terjadi.
“Aku………hanya ingin menyatakan perasaanku, tidak
dijawab juga tidak apa-apa.” Rasanya aku sudah tidak bias berkata apa-apa lagi.
Aku pun beranjak pergi dari situ karena Mika terdiam dari tadi. Tetapi saat aku
berdiri dan berjalan meniggalkan tempat itu……
“Tunggu!” dia mengenggam tanganku. Dia pun berdiri di
hadapanku sambil menunduk.
“Itu artinnya…..selama ini aku tidak bertepuk sebelah
tangan. Aku senang.” Dia pun mengangkat wajahnya sambil tersenyum, manis
sekali. Tanpa sadar tanganku mengelus kepalanya sambil tersenyum, dia pun
tertawa. Yah begini saja cukup bagiku asal ada kamu di dekatku, Mika Hayasaka, momiji-ku.